Tpsriwijaya

PESAN MORAL TENTARA PELAJAR / PELAJAR PEJUANG

SUMATERA BAGIAN SELATAN

  1. Sajarah mencatat bahwa setelah pada tanggal 17 Agustus 1945 pasukan Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945, yang diikuti dengan penyusunan pemerintahan pada tanggal 17 agustus 1945. Ternyata Belanda masih ingin menjajah Indonesia sehingga pasukan Belanda dengan sembunyi-sembunyi mengikuti pasukan sekutu yang akan membebaskan Indonesia dari pihak Jepang. Rakyat Indonesia menentang usaha perebutan kekuasaan yang dimaksud oleh Belanda sehingga terjadilah pertempuran-pertempuran yang patriotik diseluruh Indonesia antara lain yang kita kenal Pertempuran Surabaya 1945, Pertempuran Ambarawa Desember 1945, Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946 dan pertempuran Lima Hari lima malam di kota Palembang yang pecah tanggal 1 Januari 1947.

 

  1. Perlawanan hebat dari Rakyat dan Pemuda Indonesia untuk mempertahan Indonesia menyebabkan pihak sekutu berusaha menyelasaikan dengan langkah-langkah perundingan yang kita kenal dengan perjanjian Linggar Jati 10 Nopember 1946. Namun Belanda ternyata melanggar perjanjian tersebut dengan melakukan agresi mileter I pada tanggal 1 Juli 1947. Dewan keamanan PBB mengatur pertemuan yang kita kenal dengan perjanjian Renvilet pada tanggal 8 Desember 1947. Sementara perundingan terus berlangsung pihak belanda terus membentuk Negara-negara boneka antara lain: Negara Indonesia Timur, Sumatera Timur, Sumatera Selatan (30 Agustus 1948), Jawa Timur dan lain-lain. Pembentukan Negara-negara bagian tersebut dimaksudkan untuk meperkcecil wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Rakyat Indonesia terus bergejolak sehingga dengan diikuti konverensi Meja Bundar yang dikenal dengan perjanjian  Roem-Royen. Pada tangal 14 april 1949 yang menjadi cikal bakal terwujudnya Negara kesatuan Republik Indonesia yang utuh. 

 

 

  1. Pada awal oktober 1945 pemerintah Republik Indonesia sudah berdiri tegak di kota Palembang sebagai pusat kegiatan di daerah sumbagsel. Untuk mempertahan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan tersebut dengan spontan dan serentak  seluruh masyarakat membentuk barisan perjuanangan antara lain BPRI, Pesindo, Napindo, Hisbullah, API dan lain-lain. Pemuda pelajar yanga sebagian besar terdiri dari pelajar sekolah menengah menyatukan diri dalam Ikatan Pelajar Indonesia yang kemudian menjadi Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Andalas Selatan. Pemuda pelajar di Sumatera Selatan dilatih kemiliteran oleh Brigade Garuda Merah yang di kepalai oleh Kolonel Bambang Utoyo dan Alamsyah mereka berlatih dipusat pendidikan latihan BEBEM dan sebagian lagi dilatih di Batalyon 34 pimpinan  Kapten Denmas di Lampung. Pemuda pelajar dilatih kemiliteran dan mendapat legelitas Tentara Pelajar dikomandoi Oleh Datasemen III dengan Komandan Letkol M. Arip dan kepala Staf Mayor Nurdin Panji demikian pula di Bengkulu pemuda pelajar yang berasal dari Pelajar SMP dan SGO di markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR)  setempat, Dan dilantik menjadi Tentara Pelajar dalam wadah IP/IPPI yang dilantik oleh Dr. Huzairin Presiden Bengkulu, mereka berjuang dalam barisan PKR (Penjaga Keamanan Rakyat)  dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebgaian mereka ditugaskan ke Bengkulu Selatan dan sebagian lagi ke Bengkulu Utara. Di daerah Jambi pemuda pelajar SMP dan setingkatnya menyatukan diri dalam wadah IP/IPPI dan mendapat latihan kemiliteran dan pembinaan dibawah Batalyon II Resimen VI Berigade Garuda Putih dipimpin oleh Kolenel Abunjani. Sementara itu pada akhir februari 1946 Bangka dan Belitung sepenuhnya telah dikuasai Amika Belanda dan mereka bergabung dengan seluruh kekuatan bersenjata sejauah 20 KM dari Palembang, ada juga yang berada langsung dibawah Komando Berigade Garuda Merah Prabumulih, Meranjat dan Resimen 44 Pimpinan Mayor Rasyad Nawawi yang bermarkas di Tanjung Raja, Tentara Pelajar yang dipedalaman bergabung dengan kesatuan-kesatuan bersenjata di kota Lahat, Pagar Alam, Bunga Mas, dan  Lubuk Linggau. Pemuda Pelajar / Tentara Pelajar ini betul-betul ikut perang griliya baik pada agresi Militer pertama maupun agresi militer kedua

 

  1. Tangal 27 desember 1949 kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menandai berakhirnya perang kemerdekaan, Pelajar Pejuang / Tentara Pelajar kembali ke bangku Sekolah. Tentara Pelajar yang berasal dari SUMBAGSEL sebelum secara resmi dibubarkan mereka dikumpulkan di Bengkulu sebagian mereka saat dikumpulkan masih menyandang senjata api. Setelah secara resmi dibubarkan sebagian besar anggota Tentara Pelajar Menuju Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Dengan Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1949 pemerintah memberi kesempatan untuk memilih tetap aktif dalam kesatuan angkatan bersenjata atau keluar, Bagi mereka yang kembali ke bangku sekolah akan diberi tunjangan belajar. Kepada anggota tentara pelajar yang ingin berhenti diberi surat penetapan pemberhentian oleh Komandan Brigade TT.II/Sumatera Selatan yang ditandatangani langsung oleh Letkol. Bambang Utoyo dengan menyebutkan pangkat masing-masing sebagai TENTARA NASIONAL INDONESIA PELAJAR (TNIP) atau TENTARA PELAJAR (T.P)

 

  1. Pada reuni Pertam ex. Tentara Pelajar pada tanggal 19 agustus 1968 dengan dihadiri oleh Pangdam Sriwijaya Mayor Ishak Juarsyah, Bapak Alamsyah Ratu Perwiranegara menyesuaikan nama organisasi penerus perjuangan untuk membangun Indonesia setelah kemerdekaan dengan nama TENAGA PEMBANGUNAN SRIWIJAYA

 

Info

necessary, making this the first true generator on the Internet. It uses a dictionary of over 200 Latin words, combined with a handful

Subscribe